CEP Dituding Tak Serius Besarkan Golkar

Manado – Isu tak sedak kembali menghampiri Partai Golongan Karya (Golkar) Provinsi Sulut. Pasalnya, Chrisiany Eugenia Paruntu (CEP), ketua DPD Golkar Sulut, oleh kadernya sendiri dituding tidak serius dalam membesarkan partai berlambang pohon beringin itu.

Tudingan tersebut, disampaikan salah satu Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Sulut, Yaya Wangania melalui press realisenya kepada sejumlah wartawan.

“Setelah mengikuti dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh kondisi objektif Partai Golkar SUlut, khususnya dalam menghadapi, mengsukseskan dan memenangkan tahun politik, Pilkada 2018, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif Tahun 2019, maka demi eksistensi dan kewibawaan Partai Golkar di Sulut, saya meminta dan mendesak DPP untuk segera mengambil langkah-langkah guna penyelelamatan organisasi Partai Golkar, dengan segera mengevaluasi dan meninjau kepemimpinan Chrisiany Eugenia Paruntu sebagai ketua DPD,” ungkap Yaya.

Ia pun membeberkan sejumlah alasan yang mengambarkan ketidak-seriusan CEP dalam upaya membesarkan Partai Golkar di Sulut. Menurutnya, alasan itulah yang kemudian menyebabkan dirinya meminta perhatian DPP Partai Golkar.

“DPD Golkar Sulut tidak aspiratif dan akomodatif dikarenakan tidak mengakomodir dan memperhatikan kesinambungan kader, tidak mengakomodir kader potensial yang sudah terbukti telah membesarkan partai, karea dianggap musuh seperti Syarial Damapolii (mantan ketua DPRD Sulut), Elly Lasut (mantan Bupati Talaud), Syerly Sompotan (Wakil Walikota Tomohon), Edison Masengi (anggota DPRD Sulut), Decky Palinggi (anggota DPRD Sulut) dan sejumlah kader lainnya,” bebernya.

Ia pun menuding, saat ini yang menempati kepengurusan DPD Partai Golkar Sulut bukanlah kader partai yang sejak lama mengabdikan diri. Karena menurutnya, kepengurusan DPD Golkar.

“CEP memiliki gaya kepemimpinan sangat arogan karena tidak mau menerima saran dan pendapat dari pengurus lainnya, sehingga semua keputusan organisasi partai berdasarkan pada kemauan pribadi, tanpa mempertimbangkan dampak politik bagi kebesaran, kewibawaan, dan kejayaan partai,” ungkapnya.

Yaya juga menilai, dalam menghadapi Pilkada di sejumlah kabupaten dan kota di Sulut, CEP tidak memberikan kesempatan kepada kader-kader terbaik partai untuk maju sebagai calon kepala daerah atau wakil kepala daerah.

“Ada tiga daerah yang direkomendasi merupakan calon yang diusung PDI Perjuangan seperti, Pilkada Kabupaten Talaud yang menusung Welly Tita (Kader PDIP). Padahal Golkar memiliki kader potensial yakni Elly Lasut yang memiliki elaktabilitas sebesar 34%. Pilkada Minahasa Tenggara (Mitra) ada Telly Tanggulung merupakan mantan ketua Golkar dan mantan Bupati Mitra. Dan di Kota Kotamobagu yang direkomendasi Tatong Bara, kader PAN. Sementara ada Djelantik Mokodompit selaku ketua Golkar, Wakil Ketua DPRD dan mantan Walikota Kota Kotamobagu,” urainya. (Wens)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.