Sebut Beberapa Poin, Bentara Manado Ingin Indomaret di Sulut Ditutup

MANADO-Kehadiran Indomaret di Sulut dinilai sebagian kalangan tidak memberi nilai tambah bagi warga Nyiur Melambai.  Berbagai keluhan dari konsumen seakan menunjukkan kalau salah satu perusahaan ritel terbesar itu belum diterima dengan baik di Sulut.

Benteng Nusantara (Bentara) Manado yang rajin melakukan kajian lapangan bahkan meminta Indomaret di Sulut ditutup saja. Ketua Bentara Manado Steven Pande-iroot menyebut manajemen Indomaret gagal karena tak punya kearifan lokal.

“Indomaret mematikan usaha warung dan pedagang kecil. Berbagai keluhan warga juga membuat kami mengambil kesimpulan jika kehadiran perusahan ini kurang bermanfaat bagi warga Sulut. Jadi sebaiknya Indomaret ditutup saja,” kata Steven kepada wartawan di Manado, Senin (21/5/2018).

Aktivis vokal ini lantas menyebut beberapa  poin dari seputar permasalahan sebagaimana  yang dikeluhkan warga, termasuk para karyawan Indomaret sendiri. “ Poin pertama adalah harga  lebih mahal.  Salah satu cantoh misalnya  harga  Aqua 600ml di Indomaret poin yang hampir dua kali lipat dari harga yang ditawarkan  minimarket lainnya seperti Golden. Jangan karena kontrak yang mahal, lalu biaya dibebani kepada konsumen atau masyarakat,”  ujar Span, sapaan akrab Steve Pande-iroot.

Poin kedua adalah biaya pertanggungjawaban donasi dari uang Rp200 atau Rp100 dari konsumen.”Sering kali uang Rp200 itu tak dikembalikan,  tapi ditanyakan untuk didonasikan. Nah, bagaimana bentuk donasi itu yang kita tidak ketahui. Ini perlu dijelaskan manajemen Indomaret,” ungkapnya.

Poin selanjutnya soal dugaan kerja melebihi batas waktu bagi karyawan  Indomaret.  Steven menduga manajemen ingin mendapatkan keuntungan dengan memaksimalkan kinerja para karyawannya, meski itu melebii batas waktu kerja.  “Banyak yang berhenti kerja dari Indomaret karena kerja seperti romusha dalam tanda petik,” dia menegaskan.

Poin paling krusial menurut Steven adalah pelarangan memutar lagu rohani di gerai Indomaret. “ Ada karyawan yang hendak memutar lagu rohani tapi tak dibolehkan.  Padahal di Manado, pemutaran lagu bernuansa rohani, entah Kristen atauu Muslim adalah hal biasa dan paling disenangi masyarakat,” ucapnya.

Tak lupa Steven  menyorot adanya kesan diskrimasi dalam pemberian beasiswa. “Daerah lain kami dengar ada beasiswa, tapi di Sulut tak ada,”  katanya.

Permasalahan-permasalahan tersebut sudah pernah disampaikan BN Manado dalam diskusi yang  digagas Sulut Press Club (SPC). SPCI pun sudah menyampaikan poin-poin tersebut kepada pimpinan Indomaret wilayah SulutGo beberapa waktu lalu.

“Tak ada diskrinasi dalam pemberian beasiswa. Kami juga pernah merehab sekolah yang rusak di Manado,”  ujar Muhammad Lukman, mantan Ketua Kacab Indomaret Manado.

Lukman menuturkan pihaknya hadir di Sulut demi turut mendongkrak perekonomian daerah dan mensejahterahkan masyarakat. “ Donasi itu kami pertanggungjawabkan dan sampaikan lewat media,” ujarnya.

Ia juga membantah adanya kerja paksa atau romusha seperti yang dituduhkan. “Kalau lembur ada uang lembur. Kami rekrut tenaga kerja dan memberikan pelatihan menggunakan  biaya perusahaan,” ungkap Lukman yang saat itu didampingi  dua wakilnya, Satria dan Reinaldo Tuwongkoseng.

Menyangkut  harga yang lebih mahal, Untung T, Kacab baru Indomaret mengatakan  hal tersebut sangat tergantung lokasi. “Kalau  Indomaret poin ya memang harganya lebih mahal,”  ucapnya.

Sementara soal pemutaran lagu rohani, mantan Kacab Makasar ini mengatakan Indomaret  punya standar tersendiri.  “Lagu yang diputar dari pusat semua,”  katanya. (*/ymn)

 

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.