Bentara Manado Sorot Pelarangan Lagu Rohani di Indomaret

MANADO– Pemutaran lagu-lagu rohani di  pusat-pusat perbelanjaan seperti mall, supermarket dan minimarket  adalah  hal biasa di Sulut. Banyak pengunjung justru lebih senang kalau pusat-pusat perbelanjaan tersebut memutar lagu rohani,  baik lagu rohani kristen maupun muslim.

Namun, kebiasaan yang sudah menjadi kegirangan  warga Nyiur Melambai itu terkesan diabaikan manajemen Indomaret.  Salah satu perusahaan ritel ternama di Indonesia menurut investigasi Benteng Nusantara (Bentara) Manado  melarang karyawannya memutar lagu rohani.

“Sempat ada pertengkaran di salah satu toko Indomaret antara kepala toko dan karyawan karena masalah ini. Sang karyawan ingin  memutar lagu rohani, namun tidak diperbolehkan oleh kepala toko,” kata Ketua Bentara Manado, Steven Pande-iroot kepada wartawan di Manado, Rabu (23/5/2018).

Aktivis vokal ini menilai Indomaret tak  punya kearifan lokal dalam persoalan ini. “Manajemen harus memahami budaya dan kebiasaan warga setempat. Lagu rohani itu disenangi banyak kalangan di Sulut,” ujar Steven.

Sekretaris PPWI ini mengaku sempat mau menurunkan tim untuk melakukan demo besar-besaran di kantor Indomaret karena pelarangan ini.  “Banyak yang mau turun. Namun, kemudian kami urungkan. Kami titip aspirasi dan persoalan ini dalam diskusi dengan rekan-rekan Sulut Press Club atau SPC beberapa waktu lalu untuk selanjutnya disampaikan ke pimpinan Indomaret wilayah SulutGo,” ungkapnya.

Steven berharap di bulan puasa seperti saat ini, nuansa Ramadhan terlihat dan lagu-lagu rohani Islam diputar.  “Toleransi di Sulut sangat baik. Indomaret harus melihat itu sebagai suatu kekayaan,” katanya.

Selain persoalan  lagu rohani, Bentara Manado juga menyorot dugaan penjualan produk kadaluarsa. Beberapa kali menurut Steven, Indomaret  ditengarai menjual produk yang sudah kadaluarsa atau lewat batas waktu.  “Kami kerap menerima pengeluhan warga soal adanya produk yang diduga sudah kadaluarsa, tapi masih dijual di gerai Indomaret,” ucapnya.

Bentara Manado tak lupa menyentil  soal perbedaan harga pajangan dengan harga saat membayar di kasir. “Penjual harus lebih cermat karena terkadang  beda harga pajangan dengan harga kasir. Kalau sering terjadi, ada upaya pembodohan atau penipuan kepada konsumen,”  ujarnya.

Organisasi  yang anggotanya berasal dari berbagai profesi ini  juga mempertanyakan dana CSR Indomaret.  “Gerai Indomaret itu terbanyak di Manado. Seharusnya bantuan, termasuk beasiswa itu juga lebih banyak disalurkan di Manado. Kami justru mendengar kalau Indmaret memberikan beasiswa di luar daerah,” ungkapnya.

Persoalan-persoalan yang  disampaikan Bentara Manado memang sudah pernah dibahas dalam diskusi SPC. Pimpinan SPC pun sudah meneruskan aspirasi dan keluhan-keluhan tersebut ke  petinggi Indomaret wilayah Sulut dan Gorontalo.

“Kita punya aturan soal pemutaran lagu di semua toko. Semua sudah terprogram dari pusat,”  kata Untung T, Kepala Cabang Indomaret Manado.

Menyangkut  produk kadaluarsa, Indomaret  menurut mantan kepala cabang Manado, Muhammad Lukman sangat memerhatikan.  “ Sebelum habis masa edarnya, kita sudah tarik.  Kalau ada karyawan yang lalai melakukan pemeriksaan dan menarik produk sepertii itu kita beri sanksi. Kami minta maaf kalau masih ada saja kelalaian,” ujar Lukman yang saat ditemui perwakilan SPC didampingi dua wakil Reinaldo Tuwongkoseng dan Satria.

Soal perbedaan harga pajangan dan kasir, pria yang baru pindah ke Medan ini mengaku tak ada niat untuk melakukan  penipuan.  “Kita juga tegas soal ini. Kalau pun ada begitu, kasir akan menyampaikan terlebih dahulu sehingga konsumen mengetahuinya,” kata Lukman.

Ia juga membantah adanya diskriminasi pemberian beasiswa. “Indomaret juga pernah merehab sekolah rusak dan melakukan kegiatan sosialnya,” ujarnya. (ibc/ymn)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.