Aktivis LSM Terus Bergerak, DPRD Manado Agendakan Hearing dengan Indomaret

MANADO– DPRD Manado siap menindaklanjuti aduan masyarakat soal keberadaan Indomaret yang kerap dikeluhkan kalangan aktivis. Anggota DPRD Manado, Benny Parasan mengemukakan semua laporan atau aspirasi masyarakat pasti direspon DPRD Manado.

“Kami wakil rakyat di lembaga legislatif. Wajib untuk merespon aduan atau laporan yang masuk,” kata Benny kepada wartawan di Manado, Rabu (30/5/2018).

Jika laporan itu sudah diterima secara resmi, Benny dan sejumlah legislator Manado berjanji untuk segera menggelar hearing dengan pimpinan Indomaret Cabang Manado dan perwakilan LSM serta konsumen yang merasa dirugikan. “Keluhan masyarakat itu menandakan ada yang keliru dalam penerapan kebijakan Indomaret di Sulut,” kata Benny.

Sementara aktivis LSM, Terry Umboh mengaku masih merampungkan laporan yang dimaksud. “Tunggu saja, saya dan kawan-kawan akan menyampaikan aduan tersebut,” ujar Terry.

Para aktivis LSM belakangan ini terus menyuarakan penutupan Indomaret di Sulut. Desakan penutupan itu sebagai bentuk  keberpihakan  para aktivis kepada pedagang kecil, khususnya pemilik warung yang tergerus akibat ekspansi besar-besaran salah satu perusahaan ritel ternama dan terbesar di Indonesia ini.

Kegetolan para aktivis tersebut dianggap wajar oleh pemerhati  sosial dan ekonomi, Jack Sumerar.  “Lihatlah itu sebagai bentuk kontrol LSM dalam pembangunan,” kata Jack Sumerar.

Alumnsus Fakultas Ekonomi Unsrat ini berpendapat keberadaan Indomaret, termasuk juga Alfamart dan Alfamidi memang memukul pengusaha kecil atau pemilik warung. “Berapa banyak warung yang gulung tikar katena keberadaan Indomaret, termasuk kemunculan Alfamart dan Alfamidi. Saatnya pemerintah berpihak kepada pengusaha kecil,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan Bupati Minahasa Tenggara (Mitra), James Sumendap layak ditiru kepala daerah lainnya di Sulut. “James tahu tak mungkin pedagang kecil bisa bersaing dengan perusahaan besar seperti Indomaret. Makanya dia tak mengizinkan pembangunan gerai Indomaret pada semua kecamatan yang ada di Mitra,” ungkap Jack.

Memang para aktivis kian kencang menyuarakan  penutupan Indomaret. “Tutup jo karena kurang bermanfaat dalam mendongkrak perekonomian masyarakat, khususnya warga tak mampu,” Loula Kawengian Assa, aktivis LSM asal Minsel menegaskan.

Srikandi yang kerap turun di jalan memimpin demo ini menyebut pernah menjadi ‘korban’ produk kadaluarsa  dari Indomaret. “Saya pernah menyampaikan permasalahan ini dan berbagai keluhan dari masyarakat, tapi pimpinan Indomaret wilayah SulutGo cuek,”  katanya.

Aktivis lainnya menginginkan penutupan Indomaret karena berpendapat perusahaan yang memiliki ratusan toko di daerah Nyiur Melambai dan Gorontalo ini kerap ‘kurang manusiawi’ terhadap para pekerja atau karyawannya. “Sopir yang mendistribusikan produk atu bahan Indomaret ke semua toko kerap  bekerja melebihi batas waktu yang ditentukan. Beban kerja berat, tapi gaji tak diperhitungkan,” ujar Wahyuni.

Suara paling lantang datang dari Benteng Nusantara (Bentara) Manado. Ketua Bentara Manado, Steven Pande-iroot berharap pemerintah mengambil sikap tegas menutup operasional  salah satu perusahaan ritel ternama di Indonesia itu.

“Berbagai keluhan warga juga membuat kami mengambil kesimpulan jika kehadiran perusahan ini kurang bermanfaat bagi warga Sulut. Jadi sebaiknya Indomaret ditutup saja,” kata Steven.

Ia lantas menyebut beberapa  poin dari seputar permasalahan sebagaimana  yang dikeluhkan warga, termasuk para karyawan Indomaret sendiri. “ Poin pertama adalah harga  lebih mahal.  Salah satu cantoh misalnya  harga  Aqua 600ml di Indomaret poin yang hampir dua kali lipat dari harga yang ditawarkan  minimarket lainnya seperti Golden. Jangan karena kontrak yang mahal, lalu biaya dibebankan kepada konsumen atau masyarakat,”  ujar Span, sapaan akrab Steve Pande-iroot.

Poin kedua adalah biaya pertanggungjawaban donasi dari uang Rp200 atau Rp100 dari konsumen.”Sering kali uang Rp200 itu tak dikembalikan,  tapi ditanyakan untuk didonasikan. Nah, bagaimana bentuk donasi itu yang kita tidak ketahui. Ini perlu dijelaskan manajemen Indomaret,” ungkapnya.

Poin paling krusial menurut Steven adalah pelarangan memutar lagu rohani di gerai Indomaret. “Ada karyawan yang hendak memutar lagu rohani tapi tak dibolehkan.  Padahal di Manado, pemutaran lagu bernuansa rohani, entah Kristen atauu Muslim adalah hal biasa dan paling disenangi masyarakat,” ucapnya.

Tak lupa Steven  menyorot adanya kesan diskrimasi dalam pemberian beasiswa. “Daerah lain kami dengar ada beasiswa, tapi di Sulut tak ada,”  katanya.

Permasalahan-permasalahan tersebut sudah pernah disampaikan BN Manado dalam diskusi yang  digagas Sulut Press Club (SPC). SPCI pun sudah menyampaikan poin-poin tersebut kepada pimpinan Indomaret wilayah SulutGo beberapa waktu lalu.

“Tak ada diskrinasi dalam pemberian beasiswa. Kami juga pernah merehab sekolah yang rusak di Manado,” ujar Muhammad Lukman, mantan Ketua Kacab Indomaret Manado.

Lukman menuturkan pihaknya hadir di Sulut demi turut mendongkrak perekonomian daerah dan mensejahterahkan masyarakat. “Donasi itu kami pertanggungjawabkan dan sampaikan lewat media,” ujarnya.

Ia juga membantah adanya kerja paksa atau romusha seperti yang dituduhkan. “Kalau lembur ada uang lembur. Kami rekrut tenaga kerja dan memberikan pelatihan menggunakan  biaya perusahaan,” ungkap Lukman yang saat itu didampingi  dua wakilnya, Satria dan Reinaldo Tuwongkoseng.

Menyangkut  harga yang lebih mahal, Untung T Kacab baru Indomaret mengatakan  hal tersebut sangat tergantung lokasi. “Kalau  Indomaret poin ya memang harganya lebih mahal,”  ucapnya.

Sementara soal pemutaran lagu rohani, mantan Kacab Makasar ini mengatakan Indomaret  punya standar tersendiri.  “Lagu yang diputar dari pusat semua,” katanya. (*/ymn)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.