Sadis !!! 7 Bulan Berlalu Pasca Tabrakan,Oknum Pendeta Tak Punya Etikat Baik Pada Jemaatnya

Bolmong,Golden News – Sungguh malang nasib yang dialami pasangan suami istri berinisial AR alias Anggi (suami) dan GW alias Tia (istri) warga Desa Poopo Kecamatan Pasi Timur Kabupaten Bolaang Mongondow.

Pasalnya,kendaraan sepeda motor jenis Yamaha Vixion yang dikendarai Anggi yang berboncengan dengan Tia,bertabrakan dengan mobil jenis Daihatsu Xenia yang dikendarai oleh seorang Pendeta berinisial LW alias Lodewijk di antara jalan Desa Kapitu dan Desa Tewasen Kecamatan Amurang Barat pada tanggal 20 Desember 2017 lalu.

Akibat tabrakan tersebut,pasangan suami istri mengalami luka cedera yang cukup serius di bagian paha kaki kanan hingga dilarikan ke Rumah Sakit terdekat (RS GMIM Kalooran) untuk mendapatkan penanganan tim medis.Tak mampu ditangani,akhirnya kedua korban dirujuk ke RSUD Prof Kandou Malalayang.

Menurut kesaksian korban (Anggi,red),dirinya hendak melambung mobil yang ada didepannya.Karena merasa aman,dirinya memberanikan diri dan melambung mobil pick up bermuatan ikan tersebut.Kurang lebih 500 meter dari tikungan arah berlawanan,tiba-tiba muncul mobil yang dikendarai Pendeta Lodewijk dengan kecepatan 60 km/jam,tak sempat menghindar tabrakan pun terjadi.

“Kejadiannya waktu itu sekitar pukul 06:30 WITA,kami hendak pulang kampung di Desa Poopo karena libur semester dan libur Natal Tahun Baru.Ketika melintas di antara Desa Kapitu dan Desa Tewasen,didepan kami ada mobil pick up putih,karena saya pikir tidak ada mobil dari arah berlawanan,saya memberanikan diri untuk melambung.Tiba-tiba didepan muncul mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.Tak sempat menghindar,tabrakan pun terjadi,kaki kanan kami terbentur hidung bagian kanan mobil sehingga kami terpental ke bahu jalan.Untung saja mobil yang sempat kami lambung itu tidak menabrak kami.Istri saya sempat pingsan,” tutur Anggi.

Lanjut Anggi,”Ketika tabrakan terjadi,kami sempat ditolong pengendara lain dan dilarikan ke rumah sakit dan menurut orang-orang yang disekitar lokasi kejadian,mobil yang menabrak kami itu,hampir setengah kilo dari TKP,tiba-tiba berhenti karena ban depannya pecah,”.

Menariknya,pengendara mobil adalah Pendeta yang melayani di salah satu jemaat GMIBM tempat kelahiran dan tempat tinggal serta merupakan Pendeta di Jemaat orang tua dari GW alias Tia.

Lebih uniknya lagi,pada saat pasutri tersebut di rujuk ke RSUD Prof Kandou,sang pendeta alias Lodewijk memberi laporan ke Unit Laka Lantas Polres Minsel bahwa dirinya menjadi korban tabrakan dan menyalahkan sepeda motor yang dikendarai Anggi dan Tia.

Sesuai penuturan korban dan juga keluarga korban kepada Media ini,tiga hari pasca tabrakan,Pendeta Lodewijk menjenguk kedua korban di Rumah Sakit.Saat di ruangan,Pendeta menyodorkan 3 syarat kepada korban beserta keluarga korban.Syarat tersebut antara lain yaitu biaya perbaikan kendaraan ditanggung sendiri,biaya untuk dikeluarkannya kendaraan dari Unit Laka Lantas di tanggung sendiri serta biaya pengobatan setelah keluar dari Rumah Sakit di tanggung sendiri.

Merasa tak enak hati karena Pendeta Lodewijk adalah Pendeta di jemaat mereka dan juga melihat kondisi kedua korban tidak begitu parah,kedua keluarga korban tidak mempermasalahkan semua syarat yang diajukan oleh sang Pendeta.

Belum sepenuhnya pulih,Tia (istri) meminta untuk dirawat di rumah,pada saat mencari mobil ambulance yang akan dipakai untuk mengantar mereka,sang Pendeta menawarkan untuk pulang bersama dengan menggunakan mobil miliknya (Pendeta,red).Tia bersama orang tuanya pun tak bisa menolak niat baik sang Pendeta.

Pukul 01:30 WITA ketika melewati Desa Kapitu,tiba-tiba sang Pendeta menyuruh supirnya untuk berbalik arah menuju ke Polres Minsel karena sudah ada janjian dengan salah satu petugas di Laka Lantas.

Kira-kira pukul 02:00 WITA,di Unit Laka Lantas,sang Pendeta memberikan sebuah kertas kepada supirnya untuk disuruh tanda tangan kepada GW alias Tia yang saat itu berada didalam mobil.Tak tahu jelas apa isi dan maksud dari kertas tersebut,GW alias Tia disuruh menandatangani kertas yang bertuliskan namanya.Dengan menahan rasa sakit dan dalam mobil yang tak begitu terang,Tia pun langsung menandatangani kertas tersebut.

Ternyata,kertas tersebut merupakan surat kesepakatan musyawarah damai bersama yang dilaporkan sepihak oleh sang Pendeta kepada penyidik Laka Lantas Polres Minsel.

Selang 7 bulan berlalu hingga sampai saat ini Senin (6/8/2018),keadaan AR alias Anggi dan GW alias Tia semakin parah.Kedua korban bolak balik Rumah Sakit.

Diketahui saat berita ini diturunkan,belum ada satupun etikat baik dari pihak sang Pendeta untuk menjenguk ataupun menanyakan kondisi korban kepada orang tua korban yang merupakan jemaatnya sendiri.

(Redaksi)

Author: redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.