Artikel: Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru di Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado lewat Penyuluhan Kesehatan

dr. Grace Esther Caroline Korompis, MHSM, DrPH (FKM Unsrat) beserta mahasiswa FKM Unsrat

Lokasi : Lingkungan III Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado.

Terlibat : Kepala Lingkungan III Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado.

Kontribusi : Memfasilitasi penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat untuk sosialisasi kepada masyarakat dan keberlanjutan program kesehatan pada keluarga-keluarga anggota lingkungan.

Permasalahan yang ditemukan : Terdapat sejumlah masyarakat di Lingkungan III didiagnosis penyakit Tuberkulosis Paru (1.9%) dan sebagian diantaranya tidak berobat sesuai standar (16.4%).

Solusi yang ditawarkan:
a. Non-fisik:

  • Mengadakan penyuluhan tentang bahaya dari TBC
  • Mengadakan advokasi kepada pihak pemerintah setempat

b. Fisik : Membagikan masker.
Kontribusi mendasar untuk masyarakat (sasaran primer) dan diharapkan mempunyai pemahaman yang benar tentang penyakit tuberkulosis, sehingga membawa pada perubahan sikap positif tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit tuberkulosis paru, dan diharapkan akan terjadi perubahan perilaku.

Perubahan perilaku masyarakat :
a. Bagi yang belum mempunyai perilaku sehat diharapkan (diubah) agar berperilaku sehat, dan
b. Bagi yang sudah mempunyai perilaku atau berperilaku sehat tetap berperilaku sehat.

Pelaksanaan Kegiatan:

  1. Intervensi Non fisik : Memberikan penyuluhan tentang Bahaya TBC, 24 Agustus 2019 di Kelurahan Maasing Lingkungan III. Peserta 120 orang.
  2. Intervensi Fisik : Membagikan Masker dan liflet pada penderita TB dan keluarga tanggal 28 Agustus 2019. Jumlah masker dan liflet terbagi 85 buah.

Tujuan penyuluhan
Tim melakukan guna menambah pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat Kelurahan Maasing tentang pengobatan TB Paru dan pencegahannya sehingga dapat tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

MATERI PENYULUHAN
1.Pengertian Tuberkulosis Paru

  1. Penyebaran Tuberkulosis Paru
  2. Pengobatan Tuberkulosis Paru
  3. Pencegahan Tuberkulosis Paru

FAKTOR PENDUKUNG

  1. Dukungan Pemerintah Kecamatan Tuminting dalam bentuk penyampaian informasi kepada tiap-tiap kepala kelurahan untuk membantu pelaksanaan memperlancar pelaksanaan program-progam intervensi.
  2. Dukungan Lurah dan Kepala Lingkungan, dimana telah membantu dalam penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai program intervensi.
  3. Dukungan seluruh masyarakat Kelurahan Maasing Lingkungan III yang menjadi lokasi intervensi, antara lain penyuluhan dan pembagian masker
  4. Adanya dukungan dari mahasiswa FKM Unsrat.

FAKTOR PENGHAMBAT

  1. Tingkat kesibukan masyarakat Kelurahan Maasing, sehingga sulit mengumpulkan masyarakat. Oleh karena itu, penyuluhan disesuaikan dengan kegiatan keseharian masyarakat.
  2. Sebagian besar masyarakat Kelurahan Maasing berada luar daerah dan tidak berada dalam Kelurahan, sehingga saat melaksanakan intervensi fisik hanya sebagian kecil masyarakat yang terlibat.

MATERI PENYULUHAN:

  1. Pengertian Tuberkulosis Paru secara umum, penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat kita. Penyakit tuberkulosis dimulai dari tuberkulosis, yang berarti suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium Tuberculosis.

Penularaan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang mengandung basil tuberkulosis paru. Pada saat penderita batuk, butir-butir air ludah beterbangan diudara dan terhisap oleh orang sehat, sehingga masuk kedalam paru-parunya, yang kemudian menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.

Di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia, penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular. Angka tertinggi yang terjangkit penyakit ini yang berada di urutan pertama berada di negara India, sedangkan pada urutan kedua adalah Cina, sementara di Indonesia menduduki urutan ketiga dengan penderita kurang lebih 583.000 orang. Pada tahun 1999, WHO menegaskan bahwa di Indonesia, setiap tahunnya terjadi kurang lebih ratusan ribu kasus baru dengan kematian 130 penderita, dengan tuberkulosis positif pada dahaknya.

Tanda saat seseorang terjangkit Tuberkulosis Paru, di antaranya:
a. Batuk-batuk berdahak lebih dari 2 minggu
b. Batuk-batuk dengan mengeluarkan darah atau pernah mengeluarkan darah
c. Dada terasa sakit atau nyeri
d. Dada terasa sesak pada waktu bernapas.

Masa inkubasi bakteri tuberkolosis, mulai dari terinfeksi sampai pada lesi primer muncul, kurang lebih 4-12 minggu. Sedangkan untuk pulmonair progressif dan extrapulmonair, tuberkulosis biasanya memakan waktu yang lebih lama, sampai beberapa tahun.

  1. Faktor-faktor penyebab penyakit TBC
    a. Faktor sosial ekonomi
    Kondisi rumah, kepadatan hunian, lingkungan perumahan, serta lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk. Pendapatan keluarga juga sangat erat dengan penularan TBC, karena pendapatan yang kecil membuat orang yang tidak dapat hidup layak, yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.

b. Status Gizi
Kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi, dll (malnutrisi). Pengaruhnya, pada daya tahan tubuh seseorang, sehingga rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk tuberkulosis paru. Keadaan ini merupakan faktor penting yang berpengaruh di negara miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

c.Umur
Penyakit Tuberkulosis Paru sering ditemukan pada usia muda atau produktif, yaitu 15-50 tahun. Dewasa ini, dengan terjadinya transisi demografi, menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut, lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit tuberkulosis paru.

d. Jenis Kelamin
Menurut WHO, sedikitnya dalam periode setahun ada sekitar 1 juta perempuan yang meninggal akibat tuberkulosis paru. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa kaum perempunan lebih rentan terhadap kematian akibat serangan tuberkulosis paru dibandingkan akibat proses kehamilan dan persalinan. Pada laki-laki, penyakit ini lebih tinggi, karena rokok dan minuman alkohol dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh. Sehingga, wajar jika perokok dan peminum beralkohol sering disebut sebagai agent dari penyakit tuberkulosis paru.

  1. Pencegahan penyakit TBC Paru
    Banyak hal yang bisa dilakukan mencegah terjadinya TBC Paru. Pencegahan-pencegahan berikut dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat, maupun petugas kesehatan:
    a. Bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menutup mulut saat batuk atau menggunakan masker dan membuang dahak tidak disembarang tempat.
    b. Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan meningkatkan ketahanan terhadap bayi dengan memberikan vaksinasi BCG.
    c. Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi gejala, bahaya, dan akibat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya.
    d. Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang terinfeksi, atau dengan memberikan pengobatan khusus kepada penderita TBC ini.
    e. Pengobatan dengan cara menginap di rumah sakit hanya dilakukan bagi penderita dengan kategori berat dan memerlukan pengembangan program pengobatannya, sehingga tidak dikehendaki pengobatan jalan.
    Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan melaksanakan desinfeksi, seperti cuci tangan, kebersihan rumah yang ketat, perhatian khusus terhadap muntahan atau ludah anggota keluarga yang terjangkit penyakit ini dan menyediakan ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.
    f. Melakukan imunisasi orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan penderita, seperti keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan, dan orang lain yang terindikasi, dengan vaksin BCG dan tidak lanjut bagi yang positif tertular.
    g. Melakukan penyelidikan terhadap orang-orang kontak. Perlu dilakukan Tes Tuberculin bagi seluruh anggota keluarga. Apabila cara ini menunjukkan hasil negatif, perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan dan perlu penyelidikan intensif.
    h. Dilakukan pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat, yaitu obat-obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter untuk diminum dengan tekun dan teratur, selama 6-12 bulan. Perlu diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat, dengan pemeriksaan penyelidikan oleh dokter.

Author: Leriando Kambey

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *