Belum Mempersiapkan Jawaban Dari Tergugat, Sidang Class Action ‘Hutan Mata Air Kolongan’ ditunda Sampai Tanggal 10 Maret 2022 Mendatang

Manado, Goldennews.co.id — Sidang Class Action ke IV atas gugatan dari Aliansi Masyarakat (ALMA) Sea sebagai penggugat terhadap PT. Bangun Minanga Lestari (BML), Riedel Sanny Monginsidi, Prof Dr. Raymond Rodrik Tingginehe. M.ED, Noveli Randang, James Roy Sangian (Hukum Tua Desa Sea), Pemerintah Daerah Kabupaten Minahasa (Bupati) dan Kepala Kepolisian Sulawesi Utara. Sudah masuk dalam tahap jawab-menjawab. Kamis (24/2/22).

Dalam surat gugatan nomor 713/Pdt.G/PN Mnd terkait Pengrusakan Ekosistem Hutan Mata Air Kolongan yang sudah bertahun-tahun dikonsumsi Masyarakat Sea kini telah di obrak abrik bahkan tidak menutup kemungkinan telah tercemar yang di lakukan oleh pihak Developer Perumahan PT. BML diberikan Kesempatan dari Majelis Hakim Alfi Usup SH,MH untuk memberikan jawaban dari gugatan tersebut. Namun karena pihak tergutat belum menyiapkan jawaban yang dimaksud maka majelis hakim memberikan selang waktu untuk mempersiapkan jawaban tersebut.

“Surat Gugatan No. 713/Pdt.G/PN Mnd Terkait Pengrusakan Ekosistem Hutan Mata Air, di anggap sudah di bacakan ya… Silahkan Pihak tergugat untuk menjawabnya. Ok karena Belum di siapkan maka kami memberikan kesempatan untuk menyiapkan jawaban tersebut pada Sidang Berikutnya,” Tandas Majelis Hakim.

Disamping itu yang turut hadir dalam sidang tersebut adalah dari Pihak PT. BML, Kuasa Hukum dari Pemerintah Kabupaten Minahasa, Kuasa Hukum dari Hukumtua Sea, dan perwakilan dari Kepolisian Daerah.

Dalam sidang tersebut Majelis Hakim menjelaskan bahwa sekarang sudah masuk dalam tahap jawab menjawab, maka sudah tidak diperlukan lagi banyak-banyak masyarakat untuk hadir mengingat kondisi Covid’19 yang kembali meningkat, beliau mengingatkan agar terus menjaga kesehatan dan membuka Pintu perdamaian antara Penggugat dan Terguggat diluar persidangan.

“Ya.. sekedar mengingatkan bagi kita semua, bahwa persidangan ini sudah sampai pada tahap jawab-menjawab maka rasanya tidak perlu lagi banyak masyarakat untuk datang ke ruang persidangan, jika ingin mendoakan jalannya sidang silahkan Doakan dari rumah. Namun jika ingin hadir juga tidak ada yang akan melarang, mengingat kondisi Covid’19 yang semakin naik agar kita tetap mengikuti protokol kesehatan dan diberi kesempatan untuk tetap menjaga perdamaian di luar sidang, terserah itu mau di mulai oleh pihak tergugat atau Penggugat,” Jelas Majelis Hakim Alfin Usup SH.MH.

Dari Pihak Penggugat dalam hal ini tim Advokasi dari 3 Keterwakilan kelompok Aliansi Masyarakat Sea yakni Lenda Juliancie Rende dan kawan-kawan melalui Noch Sambouw SH.MH dan tim mengtakan Gugatan tetap di pertahankan, hanya ada sedikit perubahan yang tidak signifikan.

Ketua Tim Kuasa Hukum Alma Sea Noch Sambouw SH.MH saat diwawancarai media

“Hanya sedikit kesalahan yang tidak signifikan awalnya berada di jaga V sekarang menjadi Jaga VI, pada intinya tidak menyangkut pada pokok gugatan dan tidak menrugikan para pihak lain. Inti gugatan masih sama yakni Pengrusakan Ekosistem Hutan Mata Air Kolongan yang diduga dilakukan oleh Pihak PT. BML dan enam yang turut tergugat lainnya,” Jelas Noch Sambouw SH.MH selaku Kuasa Hukum Alma Sea.

Sambouw menerangkan sedikit mengenai gugatan yang dilayangkan. Karena adanya Pengrukasan Ekosistem Hutan yakni Hutan Mata Air Kolongan terhadap Tergugat.

“Harapan kami sebagai Tim Kuasa Hukum biarlah perkara ini diperiksa dan diadili sesuai Hukum yang berlaku, demi tegaknya Keadilan,” Tutup Sambouw Kepada Media.

Perlu diketahui Sidang lanjutan dari Perkara nomor 713/Pdt.G/PN.Mnd, ini di tunda sampai Kamis tanggal 10 Maret 2022 dengan agenda memberikan Jawaban dari Pihak Tergugat. (Fransisca Salu)

Author: Tim redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.