Rumagit: Tidak Ada Pungli di SMP N I Dimembe

Minahasa Utara, Goldennews.co.id — Tudingan menyakitkan telah menggoyang kursi kepemimpinan Margaretha N Rumagit, ketika sekolah yang dinahkodainya SMPN 1 Dimembe Tatelu, digemparkan oleh isu kalau pihaknya telah melakukan pungutan liar (pungli).

Menariknya, semua yang disangkakan itu, malah hal yang sama, seperti yang terjadi pada akhir tahun 2021 silam.

Untuk mengungkap semua itu, begini penjelasan Kepala Sekolah SMPN 1 Dimembe Margaretha N Rumagit, kepada Tim 16 (Wartawan Minut) saat lakukan kunjungan diruang kantornya, Senin (11/04/2022) pukul 16.00 wita.

“Akhir tahun lalu kami sempat dikagetkan oleh isu tentang adanya pungutan liar dan polemik lain. Namun semua sudah usai setelah kami pastikan kalau itu tidak benar,” tutur mantan guru bidang studi di sekolah terbaik Kecamatan Dimembe ini.

Itulah sebabnya dia kaget kalau pihaknya kembali dituduh telah lakukan pungli biaya renovasi gedung sekolah sebesar Rp. 200.000 per siswa.

“Kami memiliki komite sekolah yang solid bersama para orangtua murid. Sesuai keputusan rapat bulan Desember akhir tahun 2021 lalu, Komite sekolah dan orangtua murid sepakat menyumbangkan triplex, cat, bahkan tenaga kerja (tukang), untuk perbaikan gedung sekolah, tanpa harus membebani siswa dengan biaya 200-250.000 seperti yang diisukan. Dan itupun sudah ditelusuri oleh Polres Minut,” ungkap Margaretha.

Kendati pihaknya rindu dengan upaya perbaikan SMPN 1 Dimembe, namun karena sudah membuat pihaknya berurusan dengan inspektorat dan Dinas Pendidikan Minut, Rumagit memutuskan untuk hentikan kegiatan itu.

“Rapat bulan Januari 2022, dalam rapat bersama, kami sepakat menghentikan upaya yang sebetulnya baik untuk. Padahal baik tenaga tukang dan material, itu semua merupakan usaha dan partisipasi komite sekolah dan orangtua murid,” bebernya.

Sementara masalah para siswa sudah membayar uang seragam dan atribut sekolah yang sudah dibayar lunas namun siswa tidak mendapatkan seragam itu, Rumagit memastikan kalau itu tidak benar.

“Bahan seragam dibeli diluar daerah oleh petugas sekolah sesuai catatan jumlah murid yang sudah melunasi administrasinya. Jika benar masih ada yang tidak kebagian, kami siap mempertanggungjawabkannya. Jadi tuduhan, itu sangat tidak benar,” tegas Rumagit.

Kepada media ini juga kepala sekolah menambahkan bahwa saat dilantik, dirinya sudah diangkat sumpah untuk bekerja maksimal dan tidak terlibat masalah hukum.

“Itulah sebabnya saya keget kalau kami diisukan telah lakukan pungutan liar. Sebagai orang Tatelu asli, saya hanya berharap mampu memberi yang terbaik untuk sekolah ini, agar dikemudian hari saya dapat dikenang sebagai salah satu masyarakat Tatelu yang pernah membangun dan berbuat yang terbaik untuk sekolah maupun murud-murid disini,” pungkas Margaretha Rumagit. (Fransisca Salu)

Author: Tim redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.