Peninjauan Setempat Hutan Mata Air Kolongan, Sambouw: Ada Perbuatan Mafia Tanah di Objek Sengketa I-II

Sambouw : Simpul atau bahasa keren benang merah, benang merah di situ adalah ada perbuatan mafia tanah yang terjadi di lokasi objek sengketa I dan Objek Sengketa II yang secara jelas itu adalah perbuatan para mafia bukan perbuatan yang biasa-biasa saja.

Goldennews.co.id, Sea — Sidang gugatan Class Action Aliansi Masyarakat Sea (ALMA Sea) Terhadap Dugaan pengrusakan Ekosistem Kawasan lindung Hutan Mata Air Kolongan yang berada di Desa Sea Jaga I, Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa sudah sampai pada tahap Peninjauan Setempat atau dikenal dengan Sidang Lokasi, Jumat (17/6/2022).

Peninjauan setempat yang di laksanakan oleh Pengadilan Negeri Manado adalah bagian dari agenda sidang ke -14 yang di hadiri oleh Penggugat (masyarakat Sea) serta para terguguat I-VII dan turut tergugat I-II bersama Kuasa Hukum Masing-masing.

Sidang lokasi dibuka oleh Hakim Ketua Alfi Usup di Kantor Desa Sea dan dilanjutkan dengan Peninjauan Setempat (Sidang Lokasi) di lokasi sengketa I dan II.

Hukum Tua Desa Sea saat diwawancarai mengungkapkan rasa bangga dan salut kepada masyarakat Sea yang begitu kritis dan peduli tentang desa.

“Saya selaku Hukum Tua Desa Sea sangat bangga dengan masyarakat sea yang kritis dan peduli akan desa, ini adalah bagian dari kita semua karena kita peduli. Benar atau salah kepedulian kita ini, nantikan saja keputusan pengadilan hanya itu,” Terang Royke James Sangian kepada media.

Tim Kuasa Hukum Aliansi Masyarakat Sea James Manuhutu SH menyatakan rasa kepuasan tersendiri karena sidang lokasi inilah yang ditunggu oleh masyarakat desa sea agar bisa mengetahui bahkan memperjelas apa yang diperjuangkan itu adalah hutan yang harus dilindungi atau tidak.

“Kami mewakili masyarakat merasa puas, inilah yang kami tunggu-tunggu, dan setelah kamimengikuti dengan pihak lain semua yang di sampaikan bertentangan dengan bukti-bukti surat yang kami pegang, jadi itu hanyalah cerita. Nanti kita buktikan di pengadilan secara administrasi, dan ada surat yang kami miliki itu sudah menguatkan. Pengukuran yang dilakukan tadi itu sesuai dengan register yang kami miliki dab perlu di di garis bawahi ada beberapa surat yang sudah di akui oleh hukum tua yang mana surat tersebut dia (Roy Sangian-red) yang buat, yang selama ini dia menyangkal ternyata tadi dia susah mengakui bahwa surat tersebut dia yang buat,” Jelas Manuhutu.

Disisi lain Noch Sambouw saat di tanyakan bahwa tidak ada pohon-pohon atau hutan yang di rusak Sambouw mengatakan itu hanya menurut pendapat mereka.

“Itu hanya menurut pendapat mereka tapi pada kenyataannya kita sudah lihat sendiri dari kultur tanah saja sudah berbeda, di sini dulunya tumbuh pohon-pohon besar, sedang dan kecil, sudah di gusur semua. Tadi juga sudah terbukti apa yang menjadi materi gugatan kita bahwa turut tergugat I tidak menjual objek sengketa kepada tergugat III, pada saat sidang lokasi turut tergugat I menunjuk bahwa tanah pasini milik beliau yang di pindah tangankan kepada tergugat III tidak termasuk pada objek sengketa I dan sengketa II bah itulah susah benar-benar dibuktikan materi gugat kami yang kami ajukan kepengadilan sudah terbukti keberadaannya benar sesuai dengan fakta dilapangan,” jelas Sambouw

Lebih lanjut dirinya mengatakan perlu di catatat bahwa Novelin Randang dan tingkinehe tidak pernah menggarap san tidak pernah ada tanaman jagung, oisang san lain-lain.

“Jadi, perlu di catat bahwa Novelyn Randang dan Tingkinehe maupun masyarakat desa sea tidak pernah menggarap objek sengketa I dan II, dan tidak pernah ada tanaman jagung, pisang dan lain-lain. Jadi yang mereka katakan 3645 meter persegi itu adalah fiktif,” Tutup Sambouw.

(Fransisca Salu)

Author: Tim redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.